Jumat, 08 Mei 2009

MEMBANGUN KEMANDIRIAN

01 April 2009 

Pada awal masa remajanya, Muhammad saw tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa menggembala kambing di kalangan Bani Sa’ad dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw pernah mengatakan, “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath."

Ketika berusia 12 tahun, Muhammad saw diajak pamannya, Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil dan ahli tentang masalah-masalah kenasranian. Kemudian Bahira melihat Muhammad saw, lalu ia mulai mengamati dan mengajak berbicara. Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Anakku.” Bahira bertanya kepadanya, “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata, “Dia adalah anak saudaraku.” Bahira bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Dia meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bahira berkata, “Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.” Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawanya kembali ke Makkah.” 

BEBERAPA INSPIRASI

Sehubungan dengan usaha Muhammad saw menggembalakan kambing untuk tujuan mencari rezeki, dan perjalanannya ke Syam memberikan empat inspirasi penting, pertama; Pekerjaan menggembalakan kambing bukanlah pekerjaan para pembesar quraisy (bangsawan) pada masa itu, namun pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan orang kecil (rakyat biasa). Pekerjaan ini membutuhkan perasaan halus yang penuh perhatian, kesabaran, dan percaya diri yang tinggi. 

Muhammad saw bukanlah anak manja, yang menggantungkan hidupnya kepada Abu Thalib (pamannya). Namun begitu ia merasa memiliki kemampuan untuk bekerja, Muhammad saw segera melakukannya sekuat tenaga untuk meringankan sebagian beban nafkah dari pamannya. Barangkali hasil yang diperolehnya tidak begitu banyak dan penting bagi pamannya, tetapi ia merupakan akhlak yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan watak, dan kebaikan perilaku. 

Inspirasi yang kedua adalah, Allah swt hendak mengajarkan manusia, bahwa harta manusia yang terbaik adalah harta yang diperolehnya dari usaha sendiri, dan imbalan “pelayanan” yang diberikan kepada masyarakat dan saudaranya. Sebaliknya, harta yang terburuk ialah harta yang didapatkan seseorang tanpa bersusah payah atau tanpa imbalan kemanfaatan yang diberikan kepada masyarakat. Allah swt berfirman, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Q.S. 9 : 105. 

Ketiga, Kisah Muhammad saw yang telah dipersiapkan untuk menjadi wakil Allah swt di dunia, memiliki makna nasihat buat para da’I (juru dakwah), yakni dakwah tidak akan dihargai orang manakala mereka menjadikan dakwah sebagai sumber rezekinya, atau hidup dari mengharapkan pemberian dan sedekah orang lain. Karena itu, para da’I merupakan orang yang paling patut untuk mencari ma’isyah (nafkah) nya melalui usaha sendiri atau sumber mulia yang tidak mengandung unsur minta-minta, agar mereka tidak “berhutang budi” kepada seorangpun yang menghalanginya dari menyatakan kebenaran di hadapan “investor budi.” 

Keempat, Perjalanan Muhammad saw ke Syam dalam usia 12 tahun, memberikan inspirasi kepada umat manusia untuk belajar tentang kewirausahaan (entrepreneurship) sejak dini. Langkah yang dilakukan Muhammad saw ini akan menjadi cikal bakal dirinya menjadi seorang pengusaha sukses. Dan yang menarik adalah perginya Muhammad saw bersama kafilah dagang ke Syam bukan atas dasar perintah dari Pamannya, namun atas permintaan sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ishak, “Abu Thalib ikut pergi ke Syam bersama rombongan pedagang Quraisy. Ketika ia telah siap berangkat, Muhammad saw meminta ikut pergi.”. Permintaan Muhammad saw ini, menunjukkan bahwa dirinya memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi pengusaha sukses. Mungkin Anda pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa, “Jika Anda ingin menjadi seorang pengusaha sukses, maka berkumpullah dengan komunitas para pengusaha.” 

Kewirausahaan (entreprneurship) tidak terjadi begitu saja tetapi hasil dari suatu proses yang panjang dan dimulai sejak Muhammad saw masih kecil. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores (1964) dan Zaleznik (1976) yang mengatakan bahwa, “The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience.” Pendapat ini diamini oleh kebanyakan guru leadership yang sepakat bahwa apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan kita akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode kehidupan berikutnya. 

Dwi Sunu W Februanto, Kepala Pusat Kurikulum untuk Pendidikan Kewirausahaan Yayasan Ciputra Entrepreneurship Surabaya, mengatakan; banyak hal positif yang dapat dipelajari dari karakter dan keahlian wirausahawan. Misalnya, keberanian mengambil risiko, strategi mengatasi masalah, kemampuan berkomunikasi, cara mengubah ide menjadi sebuah rencana, serta cara menangkap dan mengelola peluang. “Karakter dan keahlian seperti itu sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan di semua bidang di era sekarang. Dan inilah yang dilakukan Muhammad saw di usianya yang masih remaja, yang pada akhirnya dapat membentuk Muhammad saw menjadi Pribadi Mandiri. 
 http://trustco.or.id/09apr-Membangun-Abduh.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar