Senin, 04 Mei 2009

Penuh Emosi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pendidikan sekarang ini sudah menjadi bagian dari diriku, sejak aku memutuskan kuliah dan memilih jurusan pendidikan matematika. Menghadapi siswa diruang kelas kuhadapi pertama kali ketika PPL di SMP N 1M tjg Morawa. Seperti latihan bagi para mahasiswa yang akan terjun menjadi seorang guru disini aku dan teman-temanku dihadapkan pada berbagaimacam karakteristik anak yang berbeda-beda ditiapkelas dan kami dalam tahap belajar bahwa kemungkinan siswa-siswa yang akan kami hadapi nanti kurang lebih hampir sama dengan yang kami hadapi di SMP 1 ini. Hal yang sangat aneh terjadi padaku, ntah ini memang sifat asliku ayau bukan sebenarnya aku tidak suka caraku ini. Bisa dibilang cara ini adalah cara terakhir yang ada dibenakku agar siswa-siswa ini tidak ribut dan konsentrasi kepada pelajaran. Cara yang kupilih dengan memasang wajah jutek mata melotot dan dengan tensi tinggi. Penuh emosi deh pokoknya, jadi guru super galak. Padahal dulu- dulu aku gak pengen kalo nantinya aku jadi guru yang galak. Tapi memang jadi guru itu gak mudah, banyak tuntutan dan harus sesuai dengan tuntunan. Subhanallah, Kalau nginget guru-guruku yang super sabar menghadapi siswa yang dah tulalit dah itu gak merhatiin kalau dijelaskan. 

Aku benar-benar harus belajar mengendalikan emosi. Sebab apa jadinya kalau mendidik dengan amarah, bukannya tujuan tercapai ehh malah kesyut video handphone para siswa  dan akhirnya masuk tivi dan ditangkap polisi. Wah betapa menyedihkan nasib guru. Kalau, dilihat gaji tidak seberapa tapi banyak banget tantangannya.

Aksi marah-marahku ini ternyata belum bisa kuhilangkan, yang paling menyedihkan aku pernah melempari anak murid dengan penghapus, spidol dan ntah apalagi. Alhamdulillah Allah masih melindungi aku dan anak itu. Tidak ada anak yang terluka akibat aksi lemparku itu.  Sekarang aku jadi tahu kenapa dulu guruku sering bawa rol panjang keliling kelas, ya mirip-mirip dengan yang kuhadapi ini siswanya. Tapi walaupun sempat menggugurkan hasratku menjadi guru. PPL kemarin menjadi pelajaran buatku mengajar sekarang. Semoga kita calon tenaga pengajar bis a menahan diri dan mencari solusi dari siswa yang kita hadapi, semoga saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar